Media Abal-abal Bikin Sebal dan Mual

Fenomena yang kini menjangkit di masyarakat maya ialah share berita-berita atau artikel yang bombastis. Itu bisa kita lihat dari judul yang umumnya panjang dan berlebihan (alay).

Menyaksikan fenomena yang kian hari kian marak ini rasanya hati saya sebal. Perut saya juga sering mual.

Terus terang, dengan banyaknya artikel atau berita yang ‘WOOOWW’ itu kadang saya merasa miris dan pesimis. Pertama, saya merasa apa yang telah saya pelajari di bangku sekolah (dari SD s/d SMA) tentang tata bahasa, kaidah Bahasa (khususnya bahasa Indonesia) seperti tidak ada gunanya. Sia-sia.

Kedua, terkait pekerjaan yang tengah saya lakoni. Kami (saya dan redaktur lain di tempat kerja) begitu hati-hati dan teliti dalam menata kata demi kata dalam postingan kami, terutama dalam penjudulan. Karena kami tahu, ketika kami salah sedikit, tak lama Pimred akan men-tag di grup media sosial internal kami.

Tapi lihat bagaimana mereka membuat judul ==> TERUNGKAP!!! TERNYATA AMIN RAIS AKAN MEMIMPIN RAKYAT PISAH DARI INDONESIA JIKA AHOK TIDAK DITANGKAP. TOLONG SEBARKAN. KASIH TAHU KELUARGA DI RUMAH!

Demi apa pun ini merupakan penghinaan. Pelecehan dan penistaan. Baik pada pekerja media, guru bahasa, pegiat bahasa, ataupun pada media-media yang telah berkomitmen untuk menjadi media yang kredibel dan bertanggung jawab. Salah satunya dengan memiliki izin penerbitan secara resmi.

Mengapa pesimis dan merasa belajar bahasa itu sia-sia? Inilah yang membuat saya dongkol, sebal dan mual. Kita bisa lihat berapa ribu kali berita atau artikel bombastis itu di share?

Setelah tautannya dibuka, enk-ink-enk, ternyata tidak seheboh yang mereka bingkai dalam ‘paragraf judul’. Semuanya itu hanya demi perolehan klik. Karena setiap klik tautan akan berpotensi menambah pundi-pundi dolar Adsense mereka.

Fenomena yang saya ceritakan itu banyak terjadi pada media abal-abal. Media yang tidak jelas siapa orang-orang di baliknya. Media yang tidak jelas alamat redaksinya. Media yang sangat diragukan kebenaran data dan faktanya.

Mudah-mudahan Menkominfo kita bisa segera bersikap tegas atas keberadaan media abal-abal tersebut. Sehingga tercipta arus informasi dan berita yang sehat dan menyehatkan. (www.ekibaehaki.com)