Setelah 3 Bulan Berjalan
Bulan ini menjadi bulan ketiga dimana aku bekerja sebagai redaktur di sebuah media online. Aku terkenang kata pimredku saat pertama aku melamar ke tempat yang sama tapi dengan modal yang berbeda. Beliau berkata, "Semua redaktur yang datang kemari mengalami hal yang sama dengan Eki. Tapi kalau Eki bertahan tiga bulan di sini, InsyaAllah, jika melihat yang sudah-sudah pasti Eki akan betah."
Tiga hari ke depan, tepatnya pada tanggal 9 September 2016, bulan ketiga sebagai redaktur media online akan benar-benar teralami. Mungkinkah aku akan benar-benar betah?
Meminjam kata-kata Antonio Conte yang semenjak jadi pelatih Chelsea, mendadak juga jadi idola baruku. Begini katanya, "Dalam sepak bola, tidak akan ada yang bisa menjanjikan 100%, sebelum peluit wasit dibunyikan, hal apa pun masih bisa terjadi."
Seperti itu pula jawaban akankah aku betah setelah melewati bulan ketiga nanti. Yang sudah pasti, ada statement baru dari pimredku ketika aku datang ke sana untuk kali kedua, begini bunyinya: "Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan, maka tegaslah memilih salah satu. Ketika pilihan itu telah kita tetapkan, maka yakinlah kita akan sukses di situ. Dan untuk tempat yang kita tinggalkan, pasti Allah akan menaruh orang baru di sana, yang juga dengan kapasitas yang mungkin lebih mumpuni daripada kita,"
"Saya tidak pernah takut kehilangan salah satu di antara kalian, karena saya yakin Allah akan menghadirkan sosok baru yang bisa jadi kapasitasnya lebih daripada kalian,”
Wallahu a’lam kita tidak pernah tahu nasib akan membawa kita ke mana. Namun sedikit refleksi setelah 3 bulan berada di sini, aku merasakan banyak yang Allah tumbuhkan dari beberapa sisi kehidupanku. Aku tidak bisa menjabarkan dimana letak pertumbuhan itu, tapi aku bisa merasakannya.
Namun harus kuingat baik-baik, tempat ini bukan hanya tempat untuk tumbuh. Tempat ini memiliki target-target yang jelas yang mana setiap bulan selalu dievaluasi. Jadi, sungguh naif jika aku hanya berbicara tentang pertumbuhanku tanpa mempedulikan pertumbuhan tempat ini.
Pada akhirnya, tentang bagaimana aku akan tetap tinggal atau pergi, bergantung pada pemangku kebijakan di tempat ini dan kemampuanku untuk terus beradaptasi dengan cara-cara, pola-pola, dan ritme kerja yang menjadi strategi bersama untuk menjadikan tempat ini selalu ada tapi tidak sekadar ada. Kuserahkan hanya pada-Nya.
(Karawang, 6 September 2016)
Tiga hari ke depan, tepatnya pada tanggal 9 September 2016, bulan ketiga sebagai redaktur media online akan benar-benar teralami. Mungkinkah aku akan benar-benar betah?
Meminjam kata-kata Antonio Conte yang semenjak jadi pelatih Chelsea, mendadak juga jadi idola baruku. Begini katanya, "Dalam sepak bola, tidak akan ada yang bisa menjanjikan 100%, sebelum peluit wasit dibunyikan, hal apa pun masih bisa terjadi."
Seperti itu pula jawaban akankah aku betah setelah melewati bulan ketiga nanti. Yang sudah pasti, ada statement baru dari pimredku ketika aku datang ke sana untuk kali kedua, begini bunyinya: "Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan, maka tegaslah memilih salah satu. Ketika pilihan itu telah kita tetapkan, maka yakinlah kita akan sukses di situ. Dan untuk tempat yang kita tinggalkan, pasti Allah akan menaruh orang baru di sana, yang juga dengan kapasitas yang mungkin lebih mumpuni daripada kita,"
"Saya tidak pernah takut kehilangan salah satu di antara kalian, karena saya yakin Allah akan menghadirkan sosok baru yang bisa jadi kapasitasnya lebih daripada kalian,”
Wallahu a’lam kita tidak pernah tahu nasib akan membawa kita ke mana. Namun sedikit refleksi setelah 3 bulan berada di sini, aku merasakan banyak yang Allah tumbuhkan dari beberapa sisi kehidupanku. Aku tidak bisa menjabarkan dimana letak pertumbuhan itu, tapi aku bisa merasakannya.
Namun harus kuingat baik-baik, tempat ini bukan hanya tempat untuk tumbuh. Tempat ini memiliki target-target yang jelas yang mana setiap bulan selalu dievaluasi. Jadi, sungguh naif jika aku hanya berbicara tentang pertumbuhanku tanpa mempedulikan pertumbuhan tempat ini.
Pada akhirnya, tentang bagaimana aku akan tetap tinggal atau pergi, bergantung pada pemangku kebijakan di tempat ini dan kemampuanku untuk terus beradaptasi dengan cara-cara, pola-pola, dan ritme kerja yang menjadi strategi bersama untuk menjadikan tempat ini selalu ada tapi tidak sekadar ada. Kuserahkan hanya pada-Nya.
(Karawang, 6 September 2016)
Posting Komentar